Komunitas Sinaoe Sastra adalah sebuah wadah bagi warga Kampoeng Sinaoe yang ingin suka bersastra dan ingin belajar tentang sastra. Tidak hanya itu, komunitas ini juga memberikan keleluasaan dalam berkarya. Karya yang dihasilkan biasanya berupa puisi, cerpen, dan drama. Dengan menekankan pada keproduktivitasan dalam berkarya, Komunitas Sinaoe Sastera ini juga akan menginterpretasi karya-karya tersebut dalam sebuah pementasan, seperti deklamasi puisi dan pementasan teater atau drama. Ada perkumpulan setiap minggunya, yaitu pukul 16.00-selesai. tidak hanya itu. Ayo berkarya agar hidup lebih berwarna.

 

Maha Karya

Memori Wanita Endor

Detik.mu tiba akhirnya…
tp sungguh tk mnyangka…
tk mnyangka begitu cepat…
kau mnghampiri gerbang maut.mu..
namun ketahuilah..
Untuk mu…
kiranya Tuhan msh mnympan surganya..
itu prasngka atau analisa, sama sja..
sudhlah, bergidik rasanya…
Bicara perihal kau yg kaku disana..
Tp bukannya apa…
hnya tak tega saja…

Semua tau..
Kau sang legendaris…
gembong wartawan wnita rumahan..
istana.mu markas mereka dulu..
para pembui, bandar angka, tikus2 curut..
Kau selimuti mereka dg lmpu temarammu…
Dan msh sngat terngiang…
setiap detik.mu..
Kau lalu lalang…
umbar bangkai pribumimu…
Kau cabut jari jemari…
penggal habis jantung, hati…
Lalu sebar habis dan hanyutkan…
Hingga para pesinggah yg acuh pun kau seret ke dalam…
Kau selami mereka sedalam isi perutmu
lalu Kau cabik seenak.nya tnpa permisi…

Sungguh tak kuasa mngingat segalanya…
Kau…
Wanita Endor…
sngguh pantas kau sndang gelar dunia itu.
tapi detik ini..
detik terakhir.mu…
Tak kuasa ku mengingat semua..
Sudahlah,Tuhan..
Mohon cabut kutukan jahanam.mu…
sekalipun telah kau persiapkan sejak dulu….
Cabutlah…
Kirimkan cahaya untuk.nya…

Wanita Endor…
Dia telah kembali…
menapaki jalan abadi…
Dan bekal apa selama ini?
Entahlah…

Langit biru

Senyum Bunda

Bunda aku anak yang berdosa
Aku mencari dari mana asalku berada
Kau mencintaku dengan tulus
Memberikan kasih sayang melebihi apapun

Aku menyangimu tapi tak sebesar dirimu
Kau merawatku yang berdosa tampa mengenal lelah
Kau menciumku disaat aku salah
Senyummu menghiasi wajah murungku

Aku rindu akan semuanya
Jika nanti kau tiada
Lalu siapa yang menemani perjuanganku
Bunda senyumu menghapus dukaku

Linda Bunga Pratiwi/guru/085714902003

Surat Animus

Sayang…

Percayalah…
Percayalah…
Tak ada yg perlu disesali…
Semua ini hadiah …

“Untuk siapa??”
“Untuk dirimu yg luar biasa..”
“Luar biasa macam apa..”
“Macam sabar mu..”
“Macam kuat mu..”
“Macam…ikhlas mu..”

Walau suara suara itu bernada klise…
Namun ku tahu, klise mu tak hal nya tere liye..

Sudah, nikmatilah rintik hujan…
Sekalipun kemarau, nikmatilah kering itu..
Disini
Kau masih punya aku…
Sekalipun pujangga harapanmu tak kunjung tiba..
Senantiasa ku sandarkan jiwa ini untukmu…

Dan kini..
Bersenandunglah kala gelap..
Jikalau cahaya itu ijinkan ku menjelma dalam nyata…
Ku akan disampingmu kapan saja…
Dengarkan duka dan gelak tawa tanpa jeda…

Hei,
Kau percaya kan sekarang?
Atau hanya aku yang percaya?
Ayolah…
kita percaya sama sama…
Percaya bahwa kita luar biasa…

Dan jika kau masih rindu aku…
Buktikan dulu kau percaya padaku…
Buktikan luar biasamu tak akan layu…
Hingga saat.nya tiba..
Ku menjelma dalam nyata..
Semangat, sayang…

Dew, Animus 160517

Rindu Merpati

Wahai kau yang disana…
Apakah kau pula terjebak duri – duri ini..
Apakah kau pula tergagap ingin muntab..
Apakah kau…sama..
Dalam belenggu rantai ini..

Apakah kau ingin menjerit…
Apakah kau ingin berteriak..
Apakah kau ingin menghujam…
Apakah kau….lelah?
Apakah kau rindu suatu titik..
Dimana, kau limpahkan lelah itu dalam tawa..
Aku pula…
begitu gila menantinya.

Wahai kau yang disana…
Apakah kau…
Sudahlah…

Dew, rindu 15052017

Aku Harus Bagaimama

Aku harus bagaimana
Bila hujan datang kau kembangkan payung-payungmu
Bila dingin mencekam kau kancingkan jaket hangatmu

Aku harus bagaimana
Ketika senja merona, kau tutup mata agar cepat malam
Ketika malam hendak memudar, kau malah mendekap sang fajar

Aku harus bagaimana
Apakah nanti rasa ini jadi Hujan Di Bulan Juni
Atau hanya sekadar kesederhanaan pada Aku Ingin

Sidoarjo, 16 Mei 2017
EF Hariyanto

Terlalu Sepi

Terlalu sepi
Ketika burung-burung bernyanyi
Ribuan mata menatap
Aku sendiri berjalan di rumah tak beratap
Terlalu sepi,
Awan mulai menjadi hitam
Hitam mulai turun hujan
Hujan menumbuhkan tanaman
Aku sendiri di keramaian
Terlalu sepi,
Surya mulai tenggelam
Tenggelam dan kesunyian datang
Rembulan mulai terbayang
Aku tetap sendiri larut dalam kenangan
Terlalu sepi,
Aku melangkah selangkah
Selangkah menjadi beberapa langkah
Lalu tergoyah, jatuh.
Aku bangkit lagi
Tapi tetap, aku sendiri.
Terlalu sepi,
Tak ada kawan sama sekali
Mereka hilang tak terdeteksi
Kini aku menyesali
Diriku yang anti untuk peduli
Dalam kegundahan menunggu kuliah tambahan 😥

Ulul Albab, 19 Mei 2017

Merpati

Seekor merpati nampak murung di dalam sangkar
Wajahnya sendu paruhnya kelu
Hatinya menjerit tapi sangkar tetap membungkamnya
Hidupnya hambar tak bisa terbang ke mana-mana

Seekor merpati yang lain terbang ke sana ke mari
Menyibak ekor dan sayapnya dengan lihai
Ia terus melenggang di antara dahan-dahan trembesi
berkicau-kicau laksana penyanyi yang bebas berekspresi

Seekor merpati harus berani mengelana
Hidup bukan sekadar menggantungkan diri
Pada sangkar yang mendekapnya
Hidup harus berkembang, sekali terbang, tetap terbang

21 April 2017
Er

Share Yuk, Warga Sinaoe!